SEBUAH video pendek beredar di grup WhatsApp. Seorang tokoh publik, dengan suara dan ekspresi yang sangat meyakinkan, mengucapkan sesuatu yang kontroversial. Dalam hitungan jam, video itu sudah dibagikan ribuan kali. Emosi publik terpicu. Narasi dikendalikan. Dan kebohongan sudah terlanjur dipercaya.
Skenario ini bukan fiksi. Ini sudah benar-benar terjadi, berulang kali, di berbagai negara dan menjadi salah satu ancaman paling serius terhadap demokrasi di era digital.
Apa Itu Deepfake?
Deepfake adalah konten video, gambar, atau audio sintetis yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI), dilatih dari rekaman asli seseorang untuk menghasilkan ucapan atau tindakan yang sebenarnya tidak pernah dilakukan oleh orang tersebut. Teknologi ini berkembang sangat pesat dan semakin sulit dibedakan dari konten asli.
Riset dari Recorded Future menemukan 82 konten deepfake yang menyasar tokoh publik di 38 negara hanya dalam periode Juli 2023 hingga Juli 2024. Sebagian besar berkaitan langsung dengan momen pemilihan umum atau kontestasi politik.
Mengapa Politik Menjadi Sasaran Empuk?
Tokoh publik dan partai politik memiliki satu kerentanan unik: rekaman suara dan video asli mereka tersedia melimpah di internet. Mulai dari pidato, wawancara, debat, siaran televisi. Bagi pembuat deepfake, ini seperti memiliki dataset pelatihan yang sangat lengkap.
Semakin sering seorang tokoh tampil di publik, semakin banyak materi yang tersedia untuk dipalsukan dengan presisi tinggi. Inilah mengapa politisi dan partai politik menjadi sasaran utama serangan deepfake.
Insiden Nyata di Berbagai Negara
Dunia sudah menyaksikan berbagai insiden nyata. Menjelang pemilihan pendahuluan New Hampshire awal 2024, ribuan pemilih menerima panggilan otomatis dengan suara yang dibuat menyerupai Presiden Joe Biden, berisi ajakan untuk tidak menggunakan hak suara. Insiden ini menjadi peringatan keras bagi demokrasi global.
Di Slovakia, sebuah rekaman audio palsu yang menggambarkan seorang kandidat mengaku telah memanipulasi pemilu menyebar luas tepat menjelang hari pencoblosan. Di Irlandia, menjelang pemilihan presiden 2025, video deepfake menyerang kandidat tertentu untuk mendiskreditkannya.
Ancaman bagi Demokrasi Indonesia
Indonesia dengan populasi digital yang masif dan penetrasi media sosial yang tinggi sangat rentan terhadap serangan deepfake. Menjelang Pemilu 2029, potensi penyebaran konten deepfake untuk mendiskreditkan kandidat atau partai politik tertentu sangat besar.
Partai NasDem sebagai salah satu kekuatan politik utama Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan dan literasi digital bagi seluruh kadernya. Deteksi dini dan respons cepat terhadap konten deepfake yang menyasar kader atau partai menjadi sangat penting.
Solusi dan Langkah Ke Depan
Pencegahan deepfake membutuhkan pendekatan multi-lapis: teknologi deteksi AI, regulasi yang tegas, literasi digital masyarakat, dan kerja sama antara platform media sosial dengan pemerintah. Partai NasDem melalui para kadernya di DPR terus mendorong regulasi yang melindungi demokrasi dari ancaman teknologi manipulatif.
Masyarakat juga perlu diedukasi untuk selalu memverifikasi informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya. Prinsip "tabayyun" — klarifikasi sebelum menyebarkan — menjadi sangat relevan di era deepfake ini.